Kok ga ngantri?

May 24th, 2008 by abasosay

Tadi malam driver kantor mengeluh. Katanya antri bensin di semua pom bensin panjang hingga ke jalan. Terkejut juga dapat kabar seperti itu. Buru-buru ke atm, ambil duit yang tersisa, lalu meluncur ke pom bensin. Pom bensis pertama terlihat penuh dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Walah.

Segera aku meluncur ke pom bensin berikutnya. Kondisinya berbeda dengan pom bensin pertama. Hanya ada deretan roda dua di sana. :-D Hanya terlihat satu kendaraan roda empat di sana. Sepertinya terjebak tanpa bisa ke luar dari pom bensin. Kasihan.

Akhirnya, dengan gontai (karena bensin di si ijo tinggal 2 liter) segera kembali ke laptop kantor. Pemikiran ringkas yang muncul pertama adalah ‘besok pagi tidak antri’. :-D Lah iya lah, kan udah naik. Lalu seminggu lagi? Pasti pom bensin penuh lagi deh.

Yah, kapan lagi menjadi pelanggan VIP dengan gratis (tanpa membership) kalau tidak tadi pagi. Begitu muncul di pom bensin dekat rumah, dengan sopan petugas menanyakan jumlah kebutuhan BBM yang diisikan. Sepi sekali. Kapan lagi pom bensin bisa sepi seperti itu lagi ya? Malas ngantri. :-D

Bookmark and Share

Ngeblog Lagi

January 7th, 2008 by abasosay

Udah lama ga ngeblok ngeblog di FS. Kebanyakan ngeblognya di tempat lain sih. Hehehe. Tapi mau nulis apaan jadi bingung nih. Ada yang punya ide?

Btw, gw udah bingung juga mau ngurus FS gimana lagi. Apakah cuma jadi tempat curhat aja ya? Mungkin gitu lebih baik. Buat melepaskan penat di kepala, membuang sesak di dada, dan melemaskan syaraf yang tegang bin kaku.

Woke, mulai besok ngetik di FS lagi ah. Sampai jumpa besok.

Bookmark and Share

Maaf, saya bisa baca…

September 18th, 2007 by abasosay

Teet… teet… teet… Keras sekali suara klakson kendaraan yang mengantri di belakangku. Aku lihat ke belakang, sebuah kendaraan mewah berjenis sedan sedang berhenti di belakang kendaraanku. Teet… Teet… Kembali terdengar suara klakson yang memekakkan telinga.

Aku geser kendaraanku sedikit untuk memberi jalan. Sedan itupun langsung melaju dengan kencangnya. Terlihat pengemudinya sendirian, tanpa ada teman di dalamnya. Akupun melirik ke arah tiang lampu lalu lintas yang setia memancarkan warna merahnya. Tertempel dengan jelas sebuah papan biru di tiang tersebut yang bertuliskan "KEKIRI IKUTI LAMPU". Weleh..??!!

Sebegitu parahkah? Coba kita lihat di pertigaan dan perempatan yang tidak dijaga oleh polisi. Coba kita hitung berapa yang memilih berhenti dan berapa yang memilih untuk melintas begitu saja tanpa rasa berdosa.

Mengapa bisa terjadi? Pertanyaan ini harus diajukan kepada diri kita. Apakah kita takut pada aturan atau takut pada aparat penegak peraturan. Atau, apakah kita mau selamat atau tidak ambil pusing jika terjadi kecelakaan. Atau, apakah kita merasa bahwa kita satu-satunya yang punya jalan.

Segera setelah kejadian tersebut, aku berpikir lagi dan berkata dalam hati "AKU TIDAK BUTA HURUF DAN BISA MEMBACA DENGAN JELAS ATURAN ITU". Jadi, akupun tidak ambil pusing lagi.

Hanya saja, ketika aku berpikir lebih jauh, bila aku mengikuti lampu itu, aku tidak akan pernah tiba di tujuan. Karena lampu itu tidak akan beranjak dari tempatnya berdiri. Hehehe. Pikiran yang aneh.

Jadi, mari kita belajar membaca. :D

Bookmark and Share

Kembali ke “Laptop”

March 28th, 2007 by abasosay

Dalam rapat yang serius, ketika seorang manajer melakukan presentasi, terjadi suasana dialog yang cukup tegang antara presenter dan penanya. Setelah pertanyaan dirasakan terjawab, timbul suasana hening sejenak. Tiba-tiba sang presenter mengajak para peserta rapat kembali pada permasalahan yang ditampilkan dengan mengatakan "Kembali ke laptop". Seketika suasana hening, tegang dan serius menjadi riuh dengan tawa.

Siapa yang tidak kenal jargon "kembali ke laptop" ini. Pertama kali dipopulerkan oleh Tukul Arwana dalam acaranya Empat Mata yang disiarkan oleh Trans7. Dan seperti gayanya bertepuk tangan dari atas ke bawah yang melekat erat dalam benak pemirsanya, jargon tersebut ternyata memiliki dampak yang luas dalam masyarakat.

Awalnya hanya diikuti dengan adanya rencana acara "Laptop Si Unyil" masih di stasiun televisi yang sama Trans7. Ketika melihat iklan "Laptop Si Unyil" ini, saya hanya berpikir bahwa ini hanya mengikuti trend saja dengan adanya jargon "Kembali ke laptop" tadi. Belum ada pikiran bahwa jargon mas Tukul itu akan menjadi sangat mendalam di benak pemirsanya.

Namun beberapa hari kemudian saya menyaksikan berita adanya pembagian laptop untuk para wakil rakyat. Saya pikir bagus pada awalnya, mengingat pekerjaan beliau akan menjadi lebih cepat karena beliau akan tidak hanya bekerja di kantor, namun juga akan bekerja di rumah. Tentu beliau akan memikirkan rakyat lebih lama, tidak hanya pada jam kantor saja.

Pada berita hari berikutnya, dalam berita saya saksikan terjadi pertentangan antara penarikan laptop dan laptop tetap diserahkan. Saya jadi mempertimbangkan pentingnya laptop dikaitkan dengan kondisi rakyat yang diwakili oleh beliau. Biaya pembagian laptop yang pasti sangat besar ini sepertinya tidak seimbang dengan kondisi rakyat Indonesia yang untuk membeli beras saja harus antri berdesak-desakan tanpa ada kejelasan dapat memperoleh beras atau tidak.

Hal ini mengingatkan saya pada beberapa waktu lalu. Pada waktu Indonesia ini dilanda bencana alam, para wakil rakyat ini berebut mendapatkan tunjangan komunikasi. Beberapa hari sebelumnya, pemerintah menyatakan tidak sanggup untuk membantu korban bencana alam. Padahal bila diperhitungkan, biaya tunjangan itu bila dibagikan pada para korban bencana alam dapat meringankan mereka.

Kembali ke permasalahan laptop si DPR. Saya jadi teringat mas Tukul yang mempopolerkan jargon tersebut. Apakah para wakil rakyat ini merasa tersaingi oleh mas Tukul. Bahwa mas Tukul saja menggunakan laptop mengapa wakil rakyat tidak. Paling tidak para wakil rakyat dapat ikut tertawa bersama ketika rapat dengan mengatakan "Kembali ke laptop".

Saya hanya dapat menduga-duga mengenai permasalahan ini. Mungkin teman-teman dapat menjelaskan mengenai fenomena ini. Saya tunggu comment-nya.

Bookmark and Share

Corporate Social Responsibility

March 28th, 2007 by abasosay

Corporate Social Responsibility diartikan sebagai kegiatan perusahaan yang memiliki tanggungjawab sosial. Kegiatan sosial perusahaan ini tentu saja secara finansial langsung tidak memiliki proyeksi keuntungan yang jelas. Kegiatan sosial ini biasanya dianggap sebagai post biaya dalam keuangan. Namun tidak dipungkiri, kegiatan sosial ini dapat menjadikan sebuah perusahaan tumbuh besar.

Kemungkinan itu dapat terjadi mengingat sebuah perusahaan tumbuh berdasarkan persepsi konsumennya. Persepsi konsumenlah yang akan menentukan untuk memiliki produk yang dihasilkan sebuah perusahaan. Persepsi konsumen yang baik atas suatu perusahaan akan mendorong terjadinya pertumbuhan perusahaan. Demikian pula sebaliknya, persepsi konsumen yang buruk akan menghambat tumbuhnya perusahaan.

Corporate Social Responsibility (CSR) sendiri perlu dipikirkan tidak hanya untuk para karyawan secara khusus, namun juga perlu dipikirkan untuk masyarakat yang berhubungan dengan perusahaan tersebut. Secara lebih jelas lagi, CSR menyangkut kepentingan yang dimiliki para stakeholders atas perusahaan. perusahaan harus dapat mengakomodasi kepentingan para stakeholders ini untuk dapat bertahan dan tumbuh.

Bookmark and Share

Growth 2

March 13th, 2007 by abasosay

Perusahaan jasa yang sedang tumbuh biasanya akan membuat tampilan perusahaan menjadi lebih eksklusif, memberikan layanan baru bagi konsumen, memberikan layanan tambahan yang lebih, menambah jaringan layanan di kota lain, dan sebagainya.

Perusahaan jasa ekspedisi akan menunjukkan adanya pertumbuhan dalam perusahaannya dengan adanya agen baru di kota yang belum termasuk dalam layanannya. Penambahan armada juga dapat menjadi indikator pertumbuhan bagi perusahaan jasa ekspedisi.

Dari berbagai tanda-tanda pertumbuhan inilah kita dapat menentukan perusahaan yang sedang tumbuh. Namun satu hal yang perlu diingat, pertumbuhan itu terjadi tanpa adanya akuisisi. Walaupun akuisisi juga dapat dianggap sebagai pertumbuhan, namun akuisisi terjadi untuk mengurangi persaingan.

Bookmark and Share

Smackdown

March 12th, 2007 by abasosay

Ada yang menarik kalau melihat iklan Lativi setelah pukul 21.00 hingga pukul 04.00. beberapa waktu yang lalu, saya sempat melihat edisi iklan kak Seto Mulyadi yang mengatakan kurang lebih "mengawasi tontonan anak adalah tanggungjawab orangtua". Saya jawab langsung waktu itu, "benar, tapi harus dilihat berapa lama orangtua dapat mengawasi atau bersama dengan anaknya. Belum lagi malam hari sang orangtua harus beristirahat karena paginya bekerja, sampai sore lagi."

Tadi malam saya melihat iklan Lativi dengan versi ‘The StuntMan’ dan ‘Acara TV hanya pertunjukan saja, bukan sungguh-sungguh’. Pada intinya keduanya ingin menyampaikan bahwa acara TV yang berbahaya dilakukan oleh orang-orang yang terlatih dan berpengalaman. Jadi, jangan mencoba di rumah. OK. Tidak salah menurut pendapat saya. Hanya perlu diperhatikan acaranya Saudara.

Baik, kita telaah satu per satu. Kak Seto yang terhormat, menurut pendapat saya, orangtua bekerja sejak pagi, bahkan ada yang harus berangkat semenjak subuh, dan pulang ketika hari telah senja bahkan ketika hari telah gelap baru tiba di rumah. Bila tiba di rumah pukul 19.00, masih bisa berkumpul dengan ank-anak, hey itu kan jam belajar Saudara. Belum lagi bila sang orangtua kelelahan karena pekerjaan dan perjalanan. Wow, wow, wow. Orangtua kelelahan dan lebih memilih untuk beristirahat karena paginya harus berangkat bekerja Saudara.

Sang anak bagaimana? Pagi sekolah. Ok sekolah. Tapi berapa lama sih sekolah? Setahu saya sekolah untuk SD hanya sampai pukul 12.00 atau 13.00 saja. Lalu setelah pulang sekolah hingga orangtuanya pulang yang mengawasi siapa Saudara? Lingkungan. Berarti tidak hanya orangtua, betul? Tetangga, saudara, teman bermain, bahkan sekarang televisi telah menjadi tuntunan. Betul?

Kak Seto yang terhormat, Anda selalu berhubungan dengan anak-anak. Pasti Anda memahami keadaan yang telah saya nyatakan tersebut. Dan pasti Anda juga sangat mengerti, karena Anda lebih mengerti daripada saya, bahwa anak-anak selalu mencoba meniru segala yang dilihatnya dari lingkungannya. Betul? Silahkan dikoreksi bila saya salah.

Jadi menurut pendapat saya kak Seto yang terhormat, tanggungjawab pendidikan dan pengawasan anak adalah tanggungjawab kita semua. Bukan hanya terbatas dipegang oleh orangtua. Kita semua berarti lingkungan, tetangga, saudara, teman bermain, bahkan televisi sekalipun.

Baik, menginjak pada pembahasan berikutnya. Pendapat bahwa "acara televisi adalah pertunjukan saja, dan bukan sungguh-sungguh". Menurut pendapat saya tidak salah. Hanya perlu diperhatikan acara apa yang dimaksud. Kalau itu film seperti filmnya Jacky Chan, Jet Lee, dan bintang-bintang laga lainnya, bisa diterima bahwa itu adalah pertunjukan saja Saudara. Anak-anak juga kesulitan untuk menirukannya. Apalagi acara seperti film laga tidak diputar setiap hari Saudara.

Kalau itu sudah membawa nama olahraga seperti gulat, dengan kemudahan hanya membanting, mencekik, memukul, mendorong, menjambak, mengunci, mencakar, dan lain sebagainya, kecenderungan untuk mengikutinya sangat mudah. Apabila diperhatikan juga, acara Smackdown ini melibatkan hingar-bingar. Sorak sorai penonton pendukung jagoannya, hebatnya bantingan yang dilakukan, kepuasan pemenang, terlihat jagoannya si pemenang, dan sebagainya sungguh-sungguh memukau bagi anak-anak. Kecenderungan meniru jagoannya pun menjadi sangat besar.

Jadi pertanyaan saya bagi semua pihak adalah; Apakah bijak apabila tanggungjawab pengawasan anak hanya diserahkan kepada orangtua? Apakah bijak apabila tontonan yang sedemikian brutal diputar setiap hari? Apakah bijak apabila tontonan yang telah merenggut nyawa anak-anak akan dipertahankan untuk tetap ditayangkan? Apakah bijak apabila tontonan yang membahayakan jiwa generasi penerus ini tidak dihentikan?

Pertanyaan terbesar yang ada di benak saya adalah, Apakah lingkungan tidak mau ambil pusing dan tidak mau mengeluarkan pendapatnya atas permasalahan ini?

Silahkan berpendapat mumpung sekarang negara masih melindungi kebebasan berpendapat. Ingat, masa depan bangsa ini bergantung pada tangan kita semua.

Bookmark and Share

Ultraman

March 12th, 2007 by abasosay

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat memperhatikan film anak "Ultraman". Menarik bila memperhatikan film tersebut. Sang pahlawan, yang berasal dari planet lain, bersembunyi dalam diri seorang manusia yang ternyata seorang anggota pelindung bumi. Ketika monster datang, sang pahlawan dimunculkan dengan suatu alat. Pertarungan sang pahlawan dengan monster pun berlangsung dengan seru. Akhirnya pertarungan dimenangkan oleh sang pahlawan. Dan sang pahlawan kembali bersembunyi dalam diri manusia.

Ternyata pesan yang disampaikan oleh film "Ultraman" ini bukan hanya kepahlawanan makhluk dari luar bumi untuk membela bumi. Sementara penghuni bumi sebagian besar tidak dapat melakukan apa-apa. Film ini setelah saya perhatikan ternyata sarat dengan pesan lingkungan.

Pada awalnya monster dianggap sebagai hal yang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Namun ketika datang serangan dari luar angkasa, para pengawal bumi ini terkejut mengetahui bahwa para monster bersatu padu untuk membela bumi. Sang Ultraman hanya berdiri terpaku menyaksikan kejadian tersebut bahwa monster bersama-sama dengan Ultraman berusaha untuk mempertahankan bumi.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya para pembela bumi menyadari bahwa para monster ini hanya penjelmaan dari jiwa bumi. Ketika bumi menjadi tidak seimbang antara penduduk dan alam, maka para monster datang untuk menyeimbangkan kembali hal tersebut dengan mengurangi jumlah penduduk. Monster pun bermacam-macam, mulai dari monster hutan, monster gunung, monster tanah, monster batu, monster air dan segala macam yang berada di alam.

Pesan yang ingin disampaikan dengan film ini adalah, eksploitasi alam, polusi yang berlebihan akan mengganggu keseimbangan alam. Keseimbangan alam yang terganggu akan memicu bencana yang merugikan kehidupan manusia. Oleh karenanya, manusia wajib menjaga keseimbangan alam.

Sungguh, suatu hal yang belum pernah saya perhatikan selama ini. Film "Ultraman" ini pada awalnya hanya saya pandang sebagai film anak-anak yang memiliki tujuan sekedar memberikan gambaran heroik dalam benak anak-anak.

Jepang telah memikirkan bahwa pertama, alam memerlukan keseimbangan untuk dapat bertahan dan bermanfaat. Ketidakseimbangan akan menimbulkan bencana. Tidak harus berbentuk seperti monster, namun bencana alam terjadi karena tidak adanya keseimbangan di alam.

Kedua, manusia dapat bertahan hidup apabila keseimbangan alam tidak terganggu. Eksploitasi besar-besaran, polusi, dan sebagainya akan mengganggu keseimbangan alam. Yang akhirnya dapat menimbulkan kehancuran bagi manusia.

Ketiga, televisi memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembentukan pribadi anak-anak. Sehingga acara anak-anak pun akan tumbuh seperti yang dia lihat di televisi. Karena anak-anak, dengan beban orangtuanya yang sangat besar dengan bekerja semenjak pagi hingga sore, tidak memiliki waktu yang cukup untuk memberikan pendidikan yang diperlukan oleh anak-anak.

Jepang membuat acara televisi yang disukai oleh anak-anak, namun juga dibebani pesan-pesan yang memberikan pemahaman bagi anak-anak. Pemahaman tersebut juga dengan mudah dapat dimengerti oleh anak-anak. Yang lebih mencengangkan, pemikiran anak-anak dapat dimasuki nilai-nilai yang baik pada saat menyaksikan acara tersebut.

Sungguh, sesuatu yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya. Jepang, memberikan pendidikan bagi anak-anak tidak hanya dari sekolah saja. Namun juga keluarga, lingkungan, bahkan tontonan. Luar biasa. Jauh dari tontonan yang katanya memberikan ‘hiburan semata’ namun nilai-nilai yang ditanamkan sangat minim bahkan sama sekali tidak ada.

Saya sangat menyayangkan adanya pendapat yang menyampaikan bahwa "tontonan televisi memberikan tayangan sehingga anak-anak atau remaja dapat mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan adalah salah. Dan mereka (anak-anak dan remaja) dapat membedakannya sendiri". Saudara, bila tidak ada pesan-pesan yang menyatakan bahwa itu salah, dan tidak diberikan tokoh yang melakukan tindakan yang benar, maka gambaran yang diterima oleh anak-anak dan remaja adalah tindakan tersebut boleh dilakukan. Bahkan ada pendapat yang menyatakan "untuk mendapatkan hal yang diinginkan atau memiliki kenyamanan seperti yang ada dalam tayangan televisi, tindakan seperti dalam tontonan itu harus dilakukan". Sungguh berat tanggungjawab ini Saudara.

Banyak pertanyaan yang hinggap dalam benak saya menyaksikan acara televisi sekarang ini. Apakah stasiun televisi hanya menayangkan acara yang menarik bagi pemasang iklan saja? Apakah stasiun televisi hanya mengejar rating saja? Apakah stasiun televisi benar-benar tidak bertanggungjawab dengan melepaskan pendidikan anak-anak itu hanya dipegang oleh orangtua? Apakah stasiun televisi sungguh-sungguh memiliki Corporate Social Responsibility (CSR) yang baik? Apakah Corporate Social Responsibility (CSR) tidak dapat digunakan oleh stasiun televisi untuk meningkatkan rating? Apakah pemasang iklan juga memiliki CSR? Apakah pemasang iklan hanya akan memasang iklannya pada acara yang dianggap bagus dalam segi tontonan, namun tidak memiliki nilai positif?

Mari kita renungkan semua pertanyaan ini Saudara. Kalau memang perlu, mari kita bertukar pikiran. Mari kita bertukar ilmu demi kelangsungan bangsa kita ini.

Bookmark and Share

Turut Berduka Cita

March 12th, 2007 by abasosay

Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas korban tragedi transportasi dimanapun.

Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas korban bencana alam dimanapun.

Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas korban kekerasan di sekolah manapun.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan oleh Allah dalam menjalani ujian ini. Amin ya rabbal al amin.

Bookmark and Share

Growth

December 20th, 2006 by abasosay

Dalam melakukan suatu bisnis, sekecil apapun bisnis tersebut, growth (pertumbuhan) sangat diharapkan oleh pemilik bisnis. Pertumbuhan sebuah bisnis biasanya dilihat dari banyaknya nilai uang yang diterima atau dapat juga dilihat dari banyaknya produk yang keluar atau dibeli oleh konsumen. Pertambahan jumlah ini yang biasanya dilihat sebagai kunci pertumbuhan perusahaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa penambahan aset perusahaan yang mendukung industri produk yang bersangkutan juga merupakan hal yang banyak dilihat sebagai indikator pertumbuhan. Penambahan mesin produksi untuk meningkatkan jumlah produk yang keluar menunjukkan bahwa perusahaan sedang berupaya untuk tumbuh dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen. Perluasan lahan perusahaan juga dapat dilihat sebagai upaya untuk tumbuh selama lahan tersebut digunakan untuk memacu produksi dan distribusi.

Perusahaan operasi produksi yang membuat barang-barang fisik biasanya menggunakan cara-cara seperti tersebut diatas untuk menunjukkan bahwa perusahaannya sedang tumbuh. Sementara bagaimanakah dengan perusahaan jasa? Apakah cara-cara yang biasa digunakan oleh perusahaan produksi barang dapat dijalankan juga oleh perusahaan jasa?

Perusahaan jasa pada umumnya tidak dapat melihat pertumbuhan dengan banyaknya produk yang dibeli. Namun lebih mudah dengan melihat banyaknya konsumen yang menggunakan jasanya. Perusahaan jasa angkutan misalnya akan melihat pertumbuhan dari jumlah penumpangnya. Sementara perusahaan jasa perbankan akan melihat dari jumlah nasabah yang menggunakan jasanya.

Bagaimanakah melihat pertumbuhan perusahaan jasa dari luar perusahaan atau yang terlihat oleh orang di luar perusahaan? Pada umumnya perusahaan jasa yang bertumbuh akan melakukan pembenahan pada penampilan perusahaan. Jika pada awal berdirinya perusahaan, bangunan yang digunakan oleh perusahaan cukup sederhana, maka pertumbuhan dapat dilihat dari perubahan penampilan bangunan yang lebih baik.

Pertumbuhan dapat juga dilihat dari fasilitas yang ditawarkan kepada konsumen. Penambahan fasilitas ini selain menunjukkan pertumbuhan perusahaan, juga digunakan sebagai daya tarik untuk mendapatkan konsumen baru. Misalnya sebelumnya perusahaan tidak memiliki fasilitas online, maka fasilitas online dapat dikatakan sebagai pertumbuhan perusahaan mengingat teknologi online bukanlah hal yang mudah dan murah.

bersambung…

Bookmark and Share