Beberapa waktu yang lalu, saya sempat memperhatikan film anak "Ultraman". Menarik bila memperhatikan film tersebut. Sang pahlawan, yang berasal dari planet lain, bersembunyi dalam diri seorang manusia yang ternyata seorang anggota pelindung bumi. Ketika monster datang, sang pahlawan dimunculkan dengan suatu alat. Pertarungan sang pahlawan dengan monster pun berlangsung dengan seru. Akhirnya pertarungan dimenangkan oleh sang pahlawan. Dan sang pahlawan kembali bersembunyi dalam diri manusia.
Ternyata pesan yang disampaikan oleh film "Ultraman" ini bukan hanya kepahlawanan makhluk dari luar bumi untuk membela bumi. Sementara penghuni bumi sebagian besar tidak dapat melakukan apa-apa. Film ini setelah saya perhatikan ternyata sarat dengan pesan lingkungan.
Pada awalnya monster dianggap sebagai hal yang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Namun ketika datang serangan dari luar angkasa, para pengawal bumi ini terkejut mengetahui bahwa para monster bersatu padu untuk membela bumi. Sang Ultraman hanya berdiri terpaku menyaksikan kejadian tersebut bahwa monster bersama-sama dengan Ultraman berusaha untuk mempertahankan bumi.
Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya para pembela bumi menyadari bahwa para monster ini hanya penjelmaan dari jiwa bumi. Ketika bumi menjadi tidak seimbang antara penduduk dan alam, maka para monster datang untuk menyeimbangkan kembali hal tersebut dengan mengurangi jumlah penduduk. Monster pun bermacam-macam, mulai dari monster hutan, monster gunung, monster tanah, monster batu, monster air dan segala macam yang berada di alam.
Pesan yang ingin disampaikan dengan film ini adalah, eksploitasi alam, polusi yang berlebihan akan mengganggu keseimbangan alam. Keseimbangan alam yang terganggu akan memicu bencana yang merugikan kehidupan manusia. Oleh karenanya, manusia wajib menjaga keseimbangan alam.
Sungguh, suatu hal yang belum pernah saya perhatikan selama ini. Film "Ultraman" ini pada awalnya hanya saya pandang sebagai film anak-anak yang memiliki tujuan sekedar memberikan gambaran heroik dalam benak anak-anak.
Jepang telah memikirkan bahwa pertama, alam memerlukan keseimbangan untuk dapat bertahan dan bermanfaat. Ketidakseimbangan akan menimbulkan bencana. Tidak harus berbentuk seperti monster, namun bencana alam terjadi karena tidak adanya keseimbangan di alam.
Kedua, manusia dapat bertahan hidup apabila keseimbangan alam tidak terganggu. Eksploitasi besar-besaran, polusi, dan sebagainya akan mengganggu keseimbangan alam. Yang akhirnya dapat menimbulkan kehancuran bagi manusia.
Ketiga, televisi memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembentukan pribadi anak-anak. Sehingga acara anak-anak pun akan tumbuh seperti yang dia lihat di televisi. Karena anak-anak, dengan beban orangtuanya yang sangat besar dengan bekerja semenjak pagi hingga sore, tidak memiliki waktu yang cukup untuk memberikan pendidikan yang diperlukan oleh anak-anak.
Jepang membuat acara televisi yang disukai oleh anak-anak, namun juga dibebani pesan-pesan yang memberikan pemahaman bagi anak-anak. Pemahaman tersebut juga dengan mudah dapat dimengerti oleh anak-anak. Yang lebih mencengangkan, pemikiran anak-anak dapat dimasuki nilai-nilai yang baik pada saat menyaksikan acara tersebut.
Sungguh, sesuatu yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya. Jepang, memberikan pendidikan bagi anak-anak tidak hanya dari sekolah saja. Namun juga keluarga, lingkungan, bahkan tontonan. Luar biasa. Jauh dari tontonan yang katanya memberikan ‘hiburan semata’ namun nilai-nilai yang ditanamkan sangat minim bahkan sama sekali tidak ada.
Saya sangat menyayangkan adanya pendapat yang menyampaikan bahwa "tontonan televisi memberikan tayangan sehingga anak-anak atau remaja dapat mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan adalah salah. Dan mereka (anak-anak dan remaja) dapat membedakannya sendiri". Saudara, bila tidak ada pesan-pesan yang menyatakan bahwa itu salah, dan tidak diberikan tokoh yang melakukan tindakan yang benar, maka gambaran yang diterima oleh anak-anak dan remaja adalah tindakan tersebut boleh dilakukan. Bahkan ada pendapat yang menyatakan "untuk mendapatkan hal yang diinginkan atau memiliki kenyamanan seperti yang ada dalam tayangan televisi, tindakan seperti dalam tontonan itu harus dilakukan". Sungguh berat tanggungjawab ini Saudara.
Banyak pertanyaan yang hinggap dalam benak saya menyaksikan acara televisi sekarang ini. Apakah stasiun televisi hanya menayangkan acara yang menarik bagi pemasang iklan saja? Apakah stasiun televisi hanya mengejar rating saja? Apakah stasiun televisi benar-benar tidak bertanggungjawab dengan melepaskan pendidikan anak-anak itu hanya dipegang oleh orangtua? Apakah stasiun televisi sungguh-sungguh memiliki Corporate Social Responsibility (CSR) yang baik? Apakah Corporate Social Responsibility (CSR) tidak dapat digunakan oleh stasiun televisi untuk meningkatkan rating? Apakah pemasang iklan juga memiliki CSR? Apakah pemasang iklan hanya akan memasang iklannya pada acara yang dianggap bagus dalam segi tontonan, namun tidak memiliki nilai positif?
Mari kita renungkan semua pertanyaan ini Saudara. Kalau memang perlu, mari kita bertukar pikiran. Mari kita bertukar ilmu demi kelangsungan bangsa kita ini.